Skip navigation
Previous searches
    Suggested searches

      Indonesia

      Available in:
      INDONESIA, 1922, TELEPHONE STATION STAFF

      Ericsson mulai mengirimkan produknya ke Indonesia pada 1907. Pada saat itu, Indonesia merupakan koloni Belanda, dan berkat penjualan yang cukup besar di Belanda, Ericsson berhasil membangun pijakan di wilayah koloni tersebut. Di Hindia Belanda, sebutan untuk Indonesia pada masa itu, sebagian besar ekspor Ericsson ditujukan ke Jawa, pulau terbesar dan terpadat.

      Ericsson tidak hanya memasok telepon ke Jawa, tetapi juga sentral telepon, dengan total pengiriman sebanyak 20 stasiun selama periode 1900 hingga 1920. Ketika Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dari pemerintah Belanda pada 1949, negara ini masih menggunakan sistem switching manual, yang sebagian besar dipasok oleh Ericsson. Pada masa itu, Ericsson juga telah memiliki kantor penjualan di Bandung.

      Pada 1953, Ericsson memasok sistem switching crossbar otomatis pertama di Indonesia. Empat tahun kemudian, switch crossbar digunakan di berbagai kota di Jawa dan Sumatra. Selain itu, sistem telepon kereta api otomatis dipasang juga di berbagai wilayah di Jawa.

      Namun, penjualan ke Indonesia relatif terbatas karena tingkat penetrasi telepon saat itu masih rendah.

      Pada akhir 1970-an, perusahaan Indonesia PT Erindo Utama mengambil alih operasional penjualan dari anak perusahaan lokal Ericsson dan membuka kantor pusat di Jakarta dengan kantor cabang di Bandung. Langkah ini terbukti memberikan hasil yang baik. Pada 1980-an, PT Erindo Utama berhasil meluncurkan sejumlah produk Ericsson, termasuk sistem PBX untuk kantor pemerintah dan sistem telepon seluler pertama di Indonesia. Pada 1994, sistem GSM yang dipasok oleh Ericsson mulai dioperasikan untuk pertama kalinya di Indonesia.

      Keberhasilan Ericsson di Indonesia dicapai tanpa penjualan sistem AXE, yang baru disetujui untuk digunakan di Indonesia pada 1997.

      Ericsson Indonesia, perusahaan lokal Ericsson, didirikan pada 1996. Kegiatan perusahaan mencakup pemasaran, manajemen proyek, dan pemantauan jaringan.Selama kerusuhan sosial di Indonesia pada akhir 1990-an, jumlah karyawan lokal berkurang dari 500 menjadi 300, sementara jumlah karyawan kontrak berkurang dari 70 menjadi sedikit di atas 20. Meskipun pasar mengalami pelemahan, permintaan terhadap telepon seluler tetap relatif stabil.

      Indonesia, 1978, stasiun telepon

      Switchboard manual.

      Indonesia, 1924, stasiun telepon
      Transportasi telepon
      Indonesia, 1926, panggilan telepon di jalan

      Pemilik toko di Indonesia melakukan panggilan telepon di jalan.

      Indonesia, 1924, stasiun kereta api

      © Telefonaktiebolaget LM Ericsson and Centre for Business History

      Contact info/About the site