Skip navigation
Previous searches
    Suggested searches
      Elevating 5G with differentiated connectivity in Indonesia

      Elevating 5G with differentiated connectivity in Indonesia

      Memenuhi ekspektasi pelanggan yang terus meningkat melalui pengalaman jaringan berkinerja tinggi

      Available in:

      Riset Ericsson ConsumerLab menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan konektivitas yang mampu mendukung gaya hidup digital mereka. Baik saat berbagi keseruan setiap gol di Stadion GBK Jakarta bersama teman maupun saat melakukan transaksi dengan aman di tengah ramainya pusat perbelanjaan yang, pelanggan mengharapkan pengalaman jaringan yang lebih baik dan bahkan bersedia membayar lebih untuk mendapatkannya.

      Report

      5G dengan konektivitas terdiferensiasi

      Pada Maret 2025, Ericsson ConsumerLab melakukan survei terhadap lebih dari 1.500 pengguna smartphone, termasuk lebih dari 550 pengguna aktif 5G, di tujuh wilayah di Indonesia. Survei ini dilakukan untuk memahami kepuasan pelanggan terhadap kinerja jaringan, ekspektasi pelanggan yang terus berkembang, serta potensi pendapatan dari konektivitas terdiferensiasi bagi penyedia layanan komunikasi.

      Bayangkan koneksi Anda terputus saat jam sibuk di Stasiun Gubeng, tepat ketika teman Anda membagikan lokasinya, atau live stream Anda tiba-tiba mengalami lag beberapa detik sebelum tim esports favorit Anda meraih kemenangan. Seiring kehidupan menjadi semakin kompleks dan membutuhkan kapasitas jaringan yang lebih besar, survei ini menunjukkan adanya perubahan yang jelas dalam ekspektasi pelanggan terhadap jaringan. Pengguna 5G kini tidak lagi puas hanya dengan layanan mobile broadband yang berfungsi dengan baik, terutama di lokasi dengan trafik tinggi. Mereka semakin membutuhkan konektivitas terdiferensiasi  untuk mendapatkan koneksi yang konsisten, responsif, dan andal saat dibutuhkan.

      Rekaman penonton konser dengan telepon

      Temuan utama

      Satu dari tiga pengguna 5G di Indonesia mengalami mengalami gangguan koneksi saat berada di area ramai atau lokasi bawah tanah.

      Kepuasan pengguna terhadap 5G di Indonesia terus meningkat. Namun, satu dari tiga pengguna 5G masih mengalami kendala konektivitas di lokasi dengan trafik tinggi seperti pusat perbelanjaan, stadion, dan area transportasi umum.

      Pelajari lebih lanjut

      Masalah konektivitas mengganggu pengalaman menikmati acara besar bagi satu dari lima pengguna 5G di Indonesia

      Semakin maraknya acara live di Indonesia membuat kebutuhan akan konektivitas 5G yang lebih baik kian penting. Sebab, satu dari lima pengguna 5G mengaku kendala koneksi mengganggu pengalaman mereka saat menghadiri acara besar. 

      Find out more

      Lima puluh persen pengguna awal 5G di Indonesia bersedia membayar lebih untuk konektivitas terdiferensiasi .

      Di antara pengguna awal 5G di Indonesia, 50 persen bersedia membayar untuk konektivitas terdiferensiasi  yang menawarkan kinerja lebih baik untuk aktivitas penting.

      Find out more

      Pengguna 5G di Indonesia bersedia membayar hingga 14 persen lebih mahal untuk konektivitas terdiferensiasi

      Dua kelompok pengguna 5G di Indonesia bersedia membayar premi hingga 14 persen lebih tinggi per bulan untuk mendapatkan konektivitas yang andal dan berkualitas tinggi.

      Find out more

      Mengoptimalkan konektivitas 5G terdiferensiasi

      Simak laporan global selengkapnya untuk mengetahui ekspektasi pelanggan di seluruh dunia terhadap jaringan mereka dan peran  konektivitas terdiferensiasi dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

      Unduh laporan

      Angka Penting

      Simak lebih dekat sejumlah temuan utama dari riset Ericsson ConsumerLab untuk mengetahui lebih jauh potensi konektivitas terdiferensiasi  di Indonesia.

      32.00 %
      Hampir sepertiga pengguna 5G di Indonesia, yang disebut sebagai “Assurance Seekers”, tetap bersedia membayar untuk mendapatkan konektivitas yang lebih baik meski mereka sudah puas dengan performa jaringan yang digunakan saat ini.
      69.00 %
      Di Indonesia, 69 persen pengguna 5G yang membayar untuk aplikasi AI generatif merasa puas dengan waktu responnya, dibandingkan dengan hanya 47 persen tingkat kepuasan dari pengguna yang tidak membayar.
      1.00 %
      1 dari 3. Satu dari tiga pelanggan dalam potensial pasar konektivitas terdiferensiasi di Indonesia menginginkan pilihan model pembayaran yang lebih beragam.

      Metodologi

      Studi ConsumerLab ini mengkaji perkembangan lanskap konektivitas seluler di Indonesia, termasuk bagaimana penyedia layanan dapat melampaui model layanan tradisional untuk menghadirkan pengalaman jaringan yang dipersonalisasi dan berkinerja tinggi.

      Pada Maret 2025, Ericsson ConsumerLab melakukan survei terhadap lebih dari 1.500 pengguna smartphone berusia 15–69 tahun di seluruh Indonesia, yang mencakup wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Papua. Dari lebih dari 1.500 responden tersebut, 550 di antaranya merupakan pengguna aktif 5G.

      Riset ini berfokus pada tiga area utama: kepuasan pengguna terhadap kinerja jaringan 5G, ekspektasi baru yang muncul seiring  perkembangan penggunaan aplikasi, serta kesediaan pelanggan untuk membayar langganan konektivitas terdiferensiasi .

      Temuan survei ini merepresentasikan lebih dari 106 juta pengguna smartphone di Indonesia, termasuk lebih dari 13 juta pengguna 5G.

      Seorang wanita di transportasi umum

      Sudahkah Anda mengunduh laporan Anda?

      Simak riset Ericsson ConsumerLab mengenai konektivitas terdiferensiasi di Indonesia. Temukan hasil riset selengkapnya dan berbagai peluang menarik bagi penyedia layanan/operator.

      Dapatkan laporan

      Satu dari tiga pengguna 5G di Indonesia mengalami kendala koneksi di area ramai dan lokasi bawah tanah

      Mulai dari pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Stadion Gelora Bung Karno, hingga destinasi wisata seperti Candi Borobudur, riset Ericsson ConsumerLab menunjukkan bahwa 34 persen pengguna 5G di Indonesia sesekali atau sering mengalami kendala konektivitas di lokasi dengan trafik tinggi seperti pusat ritel, stadion dan arena, destinasi wisata, bandara, serta berbagai titik transportasi umum.

      Temuan ini menegaskan adanya peluang menarik bagi penyedia layanan melalui konektivitas 5G terdiferensiasi   di Indonesia, salah satu ekonomi digital yang berkembang pesat di Asia Tenggara. Penguatan infrastruktur 5G dapat membantu meningkatkan kualitas konektivitas, termasuk di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan layanan telekomunikasi. Hal ini juga memungkinkan penyedia layanan meningkatkan Net Promoter Score (NPS) dengan memastikan pengalaman jaringan yang lebih baik bagi pelanggan.

      Pengguna 5G di Indonesia yang sesekali atau sering mengalami masalah jaringan di berbagai lokasi
      Pengguna 5G di Indonesia

      Base: 5G users in Indonesia. Source: Ericsson ConsumerLab, Elevating 5G with differentiated connectivity, APril 2025

      Kendala koneksi mengganggu pengalaman menikmati acara besar bagi seperlima pengguna 5G di Indonesia

      Riset Ericsson ConsumerLab menunjukkan bahwa 72 persen pengguna 5G di Indonesia menyadari bahwa mereka terdampak kendala konektivitas, terutama di area dengan trafik tinggi seperti stadion, lokasi acara luar ruangan, dan destinasi wisata. 

      Baik saat melakukan livestreaming dari Java Jazz Festival, melakukan video call dengan teman saat Indonesia Open, maupun menikmati suasana Jakarta Fair yang berlangsung selama sebulan, satu dari lima responden menyatakan bahwa pengalaman mereka di acara besar atau tempat wisata menjadi kurang menyenangkan ketika kepadatan jaringan menyebabkan gangguan konektivitas. Dengan menghadirkan performa jaringan yang sesuai dengan ekspektasi pengguna, penyedia layanan/operator dapat memberikan nilai dan pengalaman yang lebih baik, sekaligus membangun loyalitas pelanggan.

      Pengguna 5G di Indonesia yang menyadari dampak kepadatan jaringan terhadap pengalaman mereka di area ramai
      Pengguna 5G di Indonesia yang menyadari bahwa kemacetan jaringan di lokasi ramai berdampak pada pengalaman pengguna mereka

      Lima puluh persen pengguna awal 5G di Indonesia bersedia membayar untuk konektivitas terdiferensiasi 

      Menurut riset Ericsson ConsumerLab, minat terhadap konektivitas terdiferensiasi  di Indonesia terus meningkat. Temuan menunjukkan bahwa 50 persen pengguna awal 5G tertarik dan bersedia membayar untuk konektivitas terdiferensiasi  yang menjamin performa lebih baik untuk aktivitas penting, seperti melakukan video call melalui WhatsApp, streaming tayangan terbaru di Vidio, atau menggunakan aplikasi untuk pembayaran dan transportasi online seperti GoPay dan Gojek. Menariknya, persentase ini lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara lain di dunia. Bahkan, 32 persen pengguna 5G di Indonesia yang disebut sebagai “Assurance Seekers”, secara aktif mencari konektivitas yang lebih baik untuk aplikasi-aplikasi penting.

      Untuk mulai mengoptimalkan pertumbuhan pendapatan dari konektivitas 5G terdiferensiasi , penyedia layanan perlu mengembangkan strategi segmentasi yang tepat untuk mengidentifikasi kelompok pengguna utama, termasuk “Assurance Seekers”.

      Grafik menunjukkan kesediaan pengguna 5G di Indonesia untuk membayar konektivitas terdiferensiasi  dibandingkan dengan pengguna 5G secara global.

      Pengguna 5G di seluruh dunia yang tertarik membayar untuk konektivitas terdiferensiasi 
      Pengguna 5G di seluruh dunia yang tertarik membayar untuk konektivitas yang berbeda

      Pengguna 5G di Indonesia bersedia membayar hingga 14 persen lebih mahal untuk konektivitas terdiferensiasi 

      Survei Ericsson ConsumerLab mengidentifikasi dua segmen pengguna 5G di Indonesia yang berpotensi menjadi pengguna awal konektivitas terdiferensiasi dan bersedia membayar 11 hingga 14 persen lebih tinggi untuk mendapatkan performa jaringan yang lebih terjamin.

      “Performance Strivers”, yang mencakup 18 persen pengguna 5G di Indonesia, merupakan pengguna data seluler yang tinggi dan sangat aktif menggunakan aplikasi. Mereka membutuhkan performa jaringan yang lebih baik untuk aktivitas seperti video conference, cloud gaming, serta mengunggah video TikTok saat bepergian. Sementara itu, “Assurance Seekers”, yang mencakup 32 persen pengguna 5G, sudah merasa puas dengan layanan 5G yang mereka gunakan, tetapi tetap bersedia membayar lebih untuk konektivitas yang lebih baik. Dengan begitu, aplikasi penting seperti WhatsApp dan GoPay dapat digunakan dengan lancar di mana pun mereka berada.

      Bagi penyedia layanan, peluang pertumbuhan pendapatan ke depan terletak pada pengembangan berbagai layanan konektivitas terdiferensiasi yang jelas, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna, sekaligus membuka akses network API bagi para pengembang.

      Grafik berikut menguraikan lima tahap dalam menghasilkan pendapatan dari 5G bagi penyedia layanan di Indonesia. Kesediaan pengguna untuk membayar hingga 14 persen lebih mahal untuk konektivitas terdiferensiasi membuka peluang bagi penyedia layanan untuk mengembangkan model bisnis baru.

      The graph outlines these five stages of 5G revenue growth and shows the ARPU increases that are possible for Australian service providers who transition to new business models.

      Lima tahap menghasilkan pendapatan dari 5G bagi penyedia layanan di Indonesia
      Lima tahap perolehan pendapatan 5G untuk penyedia layanan Indonesia
      Berlangganan laporan ConsumerLab

      Ericsson ConsumerLab memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam mempelajari perilaku dan nilai-nilai masyarakat, serta memberikan wawasan unik mengenai tren pasar dan konsumen.

      Berlangganan laporan